Pelayaran Perdana Petikemas di Pelabuhan Tunontaka Nunukan

Pada tanggal 16 April 2010 pelabuhan Nunukan akhirnya disandari kapal peti kemas milik PT. SPIL dengan nama kapal MV. Sinar Salju, Grt 5.042, Loa 110 meter, jumlah bongkaran peti kemas ukuran 20 feet full pada pelayaran perdana ini adalah sebanyak 14 (empat belas) box/teu's. Kehadiran kapal peti kemas  di pelabuhan Tunon Taka Nunukan ini disambut dengan antusias  oleh masyarakat dan para pelaku usaha di kota Nunukan, karena barang yang dikirim melalui peti kemas keamanannya terjamin, tepat waktu dan dengan biaya yang terjangkau, kehadiran peti kemas ini juga menghasilkan apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak diantaranya pemerintah Kab. Nunukan, regulator di pelabuhan (pihak Adpel) dan instansi terkait lainnya dalam daerah kerja pelabuhan.

Sebagai penyaji terakhir di hari kedua Raker 2009, Direktur Keuangan, Sumardiyo mengatakan, bahwa Direktorat yang dipimpinnya mempunyai peran yang amat strategis dalam mengelola keuangan perusahaan ini yaitu, Pertama perusahaan ini harus terus menjadi Sehat, dan Kedua PT Pelindo IV ini harus Mandiri.

Ukuran Sehat menurutnya, adalah bagaimana menjadikan PT Pelindo IV selalu mendapat penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari lembaga yang berwenang menilai, termasuk PAPPI, PSI dan Sistem Prosedur yang berlaku. Selain itu, adalah baiknya pelaksanaan Sistem Komputerisasi yang digunakan maupun Kompetensi SDM yang memadai dalam pengelolaan keuangan perusahaan.

Ukuran sehat berikutnya adalah Pertumbuhan Profitability yang meliputi Laba, ROI dan ROCE agar mampu meningkatkan deversifikasi penempatan kelebihan liquiditas, melakukan efisiensi berdasarkan standar biaya dan alokasi sumber daya, mendorong investasi dengan terlebih dahulu melakukan mapping bisnis maupun kriteria kelayakan investasi, serta melakukan restrukturisasi asset yang tidak potensial.

Perusahaan juga dikatakan Sehat jika likuiditasnya baik, misalnya adanya program CMS yang telah diluncurkan selama ini yang mampu memberi laba sebesar Rp. 9 M per tahun, d samping itu juga harus mampu mendesain restrukturisasi pinjaman agar tidak menjadi bumerang bagi keuangan perusahaan. Selain itu dibutuhkan adanya percepatan dalam Collection Period, maupun pelaksanaan dividend pay out ratio yang teratur dan baik.

Selain hal-hal di atas perusahaan yang sehat jika kita juga mampu melakukan perencanaan dan pengendalian, misalnya dengan memberdayakan penanggung jawab cabang yang ada di Kantor Pusat, mengevaluasi kontrak manajemen ada kemajuan atau tidak, melakukan pengendalian dengan Early Warning System, serta menerapkan punishment dan reward baik kepada pegawai sendiri maupun kepada pelanggan.

Peran Direktorat Keuangan yang berikutnya adalah Kemandirian. artinya perusahaan harus mampu mengurangi ketergantungan kepada pemerintah. Karena itu PT Pelindo IV harus mampu melakukan Diversifikasi Sumber Dana investasi, misalnya dengan penjualan obligasi, melakukan kemitraan, baik KSO maupun pembentukan anak perusahaan, sinergi BUMN PT Pelindo, Holding, atau melakukan IPO (Initial Public Offering) jika memang itu diperlukan.

Selain itu, menurut Direktur Keuangan yang gemar bermain catur ini, hal yang terpenting juga adalah penerapan Cash on Line System yang bertujuan untuk mempermudah debitur dalam transaksi perbankan. Hal lain yang perlu ditata oleh Direktorat Keuangan adalah masalah penyaluran Program Bina Lingkungan dan Kemitraan (PKBL), karena selama ini penyaluran dana ini terkesan tidak adil, dicontohkan antara Kabupaten Sidrap (Sulsel,red) dan Kabupaten Jeneponto pemberian dana PKBL yang disalurkan sangat jauh berbeda, padahal Kabupaten Jeneponto termsuk daerah minus, tapi jumlah dana PKBL yang diterima sangat kecil dibandingkan dengan Sidrap yang termasuk daerah surplus pangan.”Hal-hal seperti inilah yang akan kita tata kembali agar peruntukkan dana PKBL ini benar-benar tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat di samping koordinasi yang intensif dengan Dinas Koperasi dan Dinas terkait, ujar Sumardiyo yang juga mantan SM Akuntansi Manajemen ini.

Di samping itu hal mendesak yang harus segera dilakukan dan harus mendapat perhatian serius adalah masalah keterlambatan pajak, sebab denda keteralambatan pajak dapat mencapai 80-90 persen. Artinya jika kita disiplin dan tepat waktu terhadap pelaporan pajak, maka denda pajak ini dapat dikompensasikan ke gaji Direksi atau dengan kata lain denda pajak yang kita keluarkan itu dapat membiayai gaji Direksi.

Menyinggung tentang pencapaian laba setengah triliun pada tahun 2014 nanti sesuai dengan tema Raker 2009 tahun ini, Direktur Keuangan tampaknya pesimis apabila diasumsikan dengan pencapaian laba tahun 2008 dan taksasi laba tahun 2009 yang diprediksi hanya mencapai Rp. 242.128.456.000,00 dengan pertumbuhan laba rata-rata.....% pertahun.

”Kita baru bisa mendapatkan laba setengah triliun pada tahun 2020,” tutur Direktur keuangan ini dengan melihat perilaku laba yang sudah ada.

Tapi pertanyaannya kemudian, apakah kita harus percaya dengan assumsi yang disampaikan dengan melihat angka-angka yang sudah ada? Jawabannya boleh Ya boleh Tidak. Dikatakan Ya apabila kita mengacu pada angka pertumbuhan yang kita miliki. Dikatakan Tidak jika dalam perjalanan lima tahun ke depan terjadi perubahan mendasar  terhadap perolehan laba yang mungkin disebabkan oleh anak perusahaan atau bisa jadi adanya potensi baru yang bisa digali yang selama ini masih tersembunyi  Sebab sejarah mencatat siapa sangka pada tahun 2008 yang lalu kita sudah melampaui  target laba PT Pelindo I. Segala kemungkinan bisa saja terjadi yang terpenting ada kebersamaan, keinginan untuk berubah dan percaya bahwa setengah triliun bisa diwujudkan pada tahun 2014.  Kita harapkan moga-moga dengan kerja keras yang dimiliki dari seluruh  kasta yang ada di perusahaan ini, impian untuk mencapai laba setengah triliun dapat diwujudkan, amin.