07 September 2009

Kemajuan suatu negara atau wilayah yang cenderung memberikan kehidupan yang lebih baik, tatanan sosial yang memadai, pembangunan yang merata, dan kesejahteraan bagi rakyatnya menjadi mimpi atau referensi bagi negara atau daerah lainnya untuk mencotohnya.
Menurut Walikota Sorong, J.A. Jumame, untuk menghadapi persaingan yang makin kompleks dan berbagai perubahan ke depan, banyak yang harus dilakukan, salah satunya adalah bagaimana merubah paradigma berfikir Pemda yang selama ini terkesan menuntut sesuatu dari pelabuhan tanpa upaya dan investasi. Dengan kedatangan Walikota Sorong ke Makassar (4/9), khususnya ke Kantor Pusat Pelindo IV, adalah merupakan suatu langkah maju bagi kota Sorong untuk mulai dan menjalin kerjasama dan bersinergi dengan stakeholder berpengaruh.
Jumame yang diterima langsung oleh Dirut Pelindo IV yakin kerjasama yang akan digalang ke depan akan mampu memberikan pendapatan bagi daerahnya yang pada gilirannya akan memberi kesejahteraan bagi rakyatnya. Bentuk kerjasama yang akan dilakukan antara kedua pihak tersebut adalah pembangunan Inland Container Depo (ICD) yang berlokasi di luar pelabuhan Sorong. Pembangunan ICD memang terasa kian mendesak untuk segera dilakukan, mengingat Stuffing dan Stripping petikemas dilakukan di dalam pelabuhan, yang berdampak pada lambatnya barang diterima oleh pemilik barang karena adanya keterbatasan lapangan penumpukan. Bayangkan, saat ini rata-rata penumpukan petikemas di Pelabuhan Sorong dapat mencapai sepuluh hari, ini merupakan kondisi yang kurang kondusif dan dapat menimbulkan biaya tinggi (high cost,red).
Dalam kunjungannya,Walikota Sorong bertutur, ”Sorong bisa menjadi Singapura-nya Indonesia.” Alasan itu diungkapkan karena posisi kota Sorong yang berada pada titik silang di antara kota-kota yang ada di Papua.
“Yang sangat membanggakan bagi kami,” lanjutnya, Karena sudah adanya komitmen yang dibangun antara PT Pelindo IV dengan Pemda Sorong untuk melakukan sinergi dan kerjasama, khususnya dalam pembangunan ICD.”
Posisinya yang strategis itu, membuat Kota Sorong ke depan diharapkan dapat menjadi kota industri dan bisnis, karena itu Pemda sangat konsen dalam pembangunan infrastruktur, baik laut, udara, maupun darat. Untuk sektor udara, misalnya telah dilakukan pengembangan Bandar udara Jeffman Sorong yang saat ini sudah dapat didarati oleh pesawat Boing 737-500. Dan untuk sektor laut, khususnya kepelabuhanan dalam waktu yang tidak lama lagi akan dibangun ICD yang merupakan wujud kerjasamanya dengan PT Pelindo IV. Karenanya, untuk mencapai sektor-sektor yang belum tergali, Pemda sangat aktif mengundang berbagai macam investor untuk menanamkan investasinya, sehingga Sorong benar-benar dapat menjadi pusat industri dan bisnis untuk Kawasan Papua.
Tidak hanya itu, dalam rangka memotivasi masyarakatnya walikota terus menggelorakan semangat, bahwa Papua harus dibangun, Papua tidak boleh tertinggal karena hanya dengan pembangunan yang merata dan berkeadilan Papua tetap dalam genggaman Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sementara itu, Alfred Natsir menegaskan, bahwa di lingkungan PT Pelindo IV semua pelabuhan cabang sudah menangani kegiatan petikemas, yang tingkat pertumbuhannya saat ini sudah mencapai 20 persen per tahun. Khusus untuk Pelabuhan Sorong di akhir tahun 2009 ini arus petikemas diperkirakan dapat mencapai 30 ribu TEUs (twenty equivalent units).
Terhadap kinerja operasional kapal, di Pelabuhan Sorong dalam setahunnya rata-rata bertambat tiga kapal per hari. Ini artinya, Pelabuhan Sorong dengan panjang dermaga hanya 280 M sudah harus menambah dermaga karena BOR-nya pada tahun 2008 sudah mencapai 72,21 persen. Di samping itu, waiting time kapal rata-rata 5 sampai 10 hari.
“Jika terjadi kelambatan kapal berangkat karena lamanya waiting time (waktu tunggu kapal di dermaga,red), maka perusahaan pelayaran mengalami kerugian sekitar Rp. 50 juta/hari. Ini yang kita tidak inginkan,” jelas Dirut.
Dalam kaitan kerjasama pengembangan Pelabuhan Sorong, khususnya pembangunan ICD, PT Pelindo IV menyampaikan dua opsi kepada Pemda Sorong, yaitu reklamasi laut/pantai dangkal yang berada di luar pelabuhan yang luasnya mencapai 5 ha, dan opsi kedua pembebasan lahan yang berada di depan Pelabuhan Sorong seluas 2 ha.
Hanya saja menurut Dirut Pelindo IV ini, jika yang dipilih opsi kedua biayanya terlalu mahal, dan prosedurnya relatif lebih panjang karena banyaknya instansi vertikal dalam opsi itu. Opsi pertama, yaitu dengan cara reklamasi jauh lebih baik karena biayanya relatif lebih kecil dan prosedur pembebasannya tidak perlu berbelit-belit.
“Sebenarnya dalam opsi pertama luas lahannya adalah 5 ha, tetapi untuk langkah awal kita mereklamasi saja dulu seluas 1 ha. Ini sudah bagus dan sudah bisa mengakomodir kegiatan bongkar-muat petikemas, sehingga diharapkan tidak terjadi lagi penumpukan petikemas di dalam pelabuhan yang begitu lama”, kata Alfred Natsir
Dengan adanya pembangunan ICD di luar pelabuhan, maka arus petikemas di Pelabuhan Sorong dapat menampung sampai 75.000 TEUs per tahun, sehingga ke depan diharapkan tidak terjadi lagi penumpukan petikemas yang begitu lama di dalam pelabuhan, dan biaya tinggi tentunya tidak ditemukan lagi Upaya untuk meningkatkan pelayanan terus dilakukan oleh pihak Manajemen PT Pelindo IV.
“Kita menyiapkan dana sebesar Rp. 50 sampai 60 Miliar untuk pengembangan Pelabuhan Sorong,” Jelas Dirut PT Pelindo IV. Dana itu nantinya juga digunakan sebagai solusi jangka pendek untuk pengadaan Luffing Crane, Pengadaan Tronton, Penyiapan dan Pengoperasian ICD di luar pelabuhan, pengadaan Transtainer/Reach stacker, serta penyiapan Sispro.
Apabila alternatif pertama menjadi pilihan, maka ICD ini juga dapati dijadikan sebagai kawasan pergudangan, sehingga benar-benar stagnasi di dalam Pelabuhan Sorong tidak akan terjadi lagi.











