Pelayaran Perdana Petikemas di Pelabuhan Tunontaka Nunukan

Pada tanggal 16 April 2010 pelabuhan Nunukan akhirnya disandari kapal peti kemas milik PT. SPIL dengan nama kapal MV. Sinar Salju, Grt 5.042, Loa 110 meter, jumlah bongkaran peti kemas ukuran 20 feet full pada pelayaran perdana ini adalah sebanyak 14 (empat belas) box/teu's. Kehadiran kapal peti kemas  di pelabuhan Tunon Taka Nunukan ini disambut dengan antusias  oleh masyarakat dan para pelaku usaha di kota Nunukan, karena barang yang dikirim melalui peti kemas keamanannya terjamin, tepat waktu dan dengan biaya yang terjangkau, kehadiran peti kemas ini juga menghasilkan apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak diantaranya pemerintah Kab. Nunukan, regulator di pelabuhan (pihak Adpel) dan instansi terkait lainnya dalam daerah kerja pelabuhan.

Terminal kebanggaan yang sebelumnya berstatus Divisi Pelayanan Petikemas Makassar di bawah lingkup Cabang Makassar, tahun ini genap berusia sewindu (8 tahun). Usia memang masih belia, namun TPM telah menunjukkan performance yang luar biasa, seakan tidak mau ketinggalan dengan saudara-saudaranya di Jakarta, Surabaya, atau Belawan.

Setelah melalui proses persiapan awal dan pelaksanaan pembangunan yang menelan dana dan waktu yang relative besar dan cukup lama, akhirnya pada tanggal 28 Juli 2001, Presiden RI ke-5, Megawati Soekarno meresmikan pengoperasian Terminal Petikemas Makassar (TPM).

Kebijakan pembangunan TPM, waktu itu dilandasi dasar pemikiran bahwa pelayanan petikemas merupakan tuntutan kebutuhan bisnis global. Ke depan, akan terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam pola angkutan barang. Asa kecenderungan perubahan dari sistem konvensional berupa kemasan general cargo atau barang lepasan, ke arah penggunaan petikemas. Karena dengan petikemas, diakui banyak kelebihan, diantaranya bongkar muat barang dapat dilaksanakan dengan cepat, aman dan selamat hingga ke tujuan. Di samping itu pengalaman dari tahun ke tahun, arus petikemas di Pelabuhan Makassar selalu mengalami kecenderungan meningkat. Pada tahun 2001, saat peresmian, petikemas di Pelabuhan Maakssar telah mencapai sekitar 200.000 TEUs per thaun. Kapasitas TPM dengan 8ha lahan penumpukan hanya akan mampu menampung sekitar 350.000 TEUs per tahun. Ini berarti, saat peresmian TPM sudah harus memikirkan pengembangan ke depannya lagi (laporan Dirut Prayitno saat peresmian).

KEBIJAKAN JITU

Keberanian Direksi dan jajarannya waktu itu yang digawangi oleh Dirut Sumardi perlu diacungi jempol. Di sela-sela kondisi keuangan Pelindo IV, dimana masih banyak cabang-cabangnya yang merugi, resesi dunia, padatnya pemukiman dan penduduk di sekitar lokasi sasaran akhir, Perseroan menerima tantangan pembangunan TPM berfasilitas modern dengna dana 381 M lebih (vide Pelabuhan 4, edisi 93, hal 4). Dana itu sebagan besar merupakan pinjaman dari luar negeri, Pelindo IV memanggul konsekuensi harus membayar cicilan pokok plus bunga yang tidak sedikit.

Dalam pelaksanaannya yang sangat tidak mudah, seorang pimpro Wasis Subiyanto (kini menjabat Dirpum Pelindo IV) beridiri tegap untuk mengatasi permasalahan pembebasan lahan yang akan dijadikan proyek pembangunan terminal modern tersebut; Banyak rumah, pertokoan, perkantoran, dan pedagang-pedagang di sekitar lokasi dengan berbagai tipe, karakter dan emosi. Lokasi proyek itu sendiri di Pangakaln Hatta, sebenarnya telah disetujui oleh Pemeritnah Pusat, Pemda, Pemkot, Direksi, lembaga kemasyarakatan, konsultan, dan beberapa pihak lainnya. Namun tetap saja gejolak tak henti-hentinya datang. Berbagai pertemuan dilaksanakan, ganti rugi diberikan, bahkan ada yang samapi dititip ke pengadilan Negeri Makassar (konsinyasi) bagi mereka yang belum merasa cocok dengan besaran yang diberikan. Akhirnya dengan penuh dedikasi dan ekrja keras, tanpa kenal lelah, dengan strategi yang akurat, hasilnya dapat kita banggakan dan kita nikmati bersama.

Kebutuhan lahan sisi darat dibebaskan, kebutuhan lahan dari laut, dilakukan reklamasi. Khusus untuk reklamasi ini, rasanya ada sedikit yang agak kurang pas waktu itu. Untuk memeproleh lahan, sebagian kolam pelabuhan yang sebenarnya sangat ideal untuk manuver kapal dan terbatas areaelnya, karena di luar kolam terhampar pulau dan penahan ombak, harus direklamasi. Padahal sebenarnya lahan TPM bisa dilaksanakan dengna membebaskan lahan ke arah kota, sesuai yang diinginkan. Barangkali pertimbangan waktu itu adalah mereklamasi kolam pelabuhan lebih murah daripada harus membebaskan lahan yang padat hunian dan ribuan problematikanya.

PERKEMBANGAN PESAT

Usia relatif muda, baru delapan tahun. Ibarat bocah, ini lagi lucu-lucunya, mulai belajar “jalan” dan ngomong. Tetapi, bagi TPM, di usia dini ini ia telah menunjukkan jati diri dan performance-nya sebagai terminal yang mampu melayani bongkar muat barang kelas dunia.

Dalam pelayanan petikemas Drut Djarwo Surjanto telah menyatakan sebagai terminal terbaik dalam levelnya sebagai pelayan petikemas. Ini mengandung arti bahwa dibanding rekan sejawatnya yang ada di Jakarta, Surabaya ataupun di Belawan, TPM masih unggul dalam pelayanan petikemas (Majalah Pelabuhan 4 edisi I tahun 2009, halaman 24).

Kedewasaaan dalam pelayanan petikemas tentunya tidak terlepas dari peran masing-masing ketiga dirut jajaran di tiap masanya. Mari kita simak tiap periode itu. Era Dirut Sumardi. Beliau sangat konsen dan berhasil dalam proses awal untuk meyakinkan perlunya TPM dibangun, berkali-kali dalam setiap erptemuan yang sengaja dilakukan untuk itu, baik dengan DPR, pejabat pusat, unsur pemda, lembaga sosial kemasyarakatan, mahasiswa, pengguna jasa atau siapa saja, beliau selalu mengekspose pentingnya membangun TPM. Dengan gayanya yang khas, selalu dipaparkan dan diyakinkan kepada stakeholder betapa bercampurnya arus penumpang kapal dan padatnya mobilitas sarana angkutan barang, sempitnya akses ke pelabuhan, meningkatnya arus petikemas, serta antisipasi pengembangan Kota Makassar.hingga akhirnya, kerja kerasnya berbuha kesadaran berbagai pihak untuk memndukung dan membangun TPM yang modern.

Di samping itu beliau juga berhasil meyakinkan penyandang dana, mungkin ADM, OECF atau IDB, bahwa Pelindo IV akan mampu membayar pinjamannya walaupun harus dilakukan dengan mencicil. Pihak DPR, Pemda, dan masyarakat berhasil diyakinkan bahwa suatu saat TPM akan menjadi ikon, kebanggaan Sulawesi Selatan dan akan menjadi stimulus dalam memperlancar roda pembangunan di Kawasan Timur Indonesia dan Makassar pada khususnya.

Era Dirut Prayitno. Ini era yang tidak kalah penting. Bersama jajarannya, ia mengawal pelaksanaan pembangunan serta mempersiapkan, membina dan memberikan motivasi yang kuat bagi para pelaksana yang meiliki keterampilan dalam keigatan operasional TPM. Dengan taktis dan trampil setiap permasalahan pemabngunan, aspek legal, kemasyarakatan, termasuk banjirr besar di Pelabuhan Makassar pada tahun 1999, beliau terjun langsung ke gorong-gorong, saluran dan got-got, untuk segera menyelesaikan masalah. Waktu itu, Pelabuhan Makassar dan TPM dituding tidak memperhatikan saluran air ke laut, bahwa arus air terhalang dengan keberadaan TPM.

Akhirnya masyarakat berhasil diyakinkan bahwa TPM sama sekali bukan penyebab terhambatnya arus air, karena TPM sangat memperhatikan aspek lingkungan dengan AMDALnya.

Pada saat Dirut Djarwo Surjanto dan jajarannya bertahta, walalupun belum pernah dihadang dengan banjir besar, perannya sangat penting dalam pengembangan TPM. Barangkali karena beliau ini selalu mengajak kita semua untuk tidak henti-hentinya untuk bersyukur, TPM melaju dengan pesat. Simak beebrapa keberhasilannya selama ini:

1. dilandasi dengan insting seorang usahawan, TPM dengan dua contaienr crane (CC), masih dirasa perlu dan menguntungkan jika ditambahkan dua unit CC lagi. Untuk membeli baru, second hand ataupun menyewa CC, perlu dana besar. Alternatif cerdas yang dipilih adalah kerja sama saling menguntungkan dengan PT Makassar Terminal Service (MTS) yang bersedia menyediakan dua CC, lengkap dengan awaknya dengan sistimatika bisnis lagi hasil.
2. Sebagai pejabat publik di lingkup yang selama ini digeluti dan dikuasai, beban hutang berupa cicilan pokok dan bunganya dilakukan kerjasama dengan mitra untuk dijadwalkan ulang. Hasilnya hutang yang sangat potensial itu pada tahun 2006 berhasil dilunasi.
3. Dengan semakin pesatnya arus petiekmas saat ini, mungkins ekarnag sudah lebih dari 400.000-an TEUs per tahun dan TPM berhasil menyumbang laba potensial ke Pelindo IV. TPM mampu berlari kencang di usianya muda, dari unit divisi hingga tumbuh sendiri menjadi unit terminal yang langsung berhulu ke Pelindo IV.
4. Menerapkan pelayanan prima, ISPS Code, sertifikat ISO 9001:2000, sertifikat K3, sertifikat kompetensi bagi operator, sertifikasi alat angkut dari Sucofindo, Depnaker dan lain-lain.
5. Untuk dapat menjamin ketenangan dalam kerja, tidak kalah pentingnya, saat ini telah direalisir penambahan gedung kantor baru dan pembangunan rumah dinas bagi General Manager dan para managernya.

PROMOTE EASTERN INDONESIA: ANDALAN

Kondisi pelayanan petikemas di TPM dengan segala permasalahannya di sela-sela kondisi perekonomian yang belum pulih kembali dan adanya tuntutan liberalisasi kepelabuhanan, otoda, dan problem internal sendiri merpuakan tantangan Dirut Alfred Natsir dan jajarannya. Slogan Promote Eastern Indonesia telah ditabuh dan didendangkan. Sebagai komitmen moral bagi Kawasan Timur Indonesia (KTI), yang harus dibuktikan dalam karya nyata.

Peran TPM akan sangat berarti bagi KTI. Ini bisa diukur dengna melihat tingkat pertumbuhan dan perkembangan perekonomian dan kelancaran pembangunan di wilayah KTI. Sebagai satu rangkaian siklus sarana dan prasarana produksi, TPM tidak terlepas dari tingkat keberhasilan dan pertumbuhan di sektor lainnya. Sebagai sarana antar moda transportasi, TPM dituntut untuk dapat melayani distribusi dan pengelolaan barang import ekspor, antar pulau, internal dengan lancar, cepat, aman dan tentunya dengan mengembangkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat, untuk dapat mendongkrak KTI, dengan promote eastern Indonesia.

Impian lama, suatu saat TPM dengan segala fasilitasnya akan mampu melayani petikemas langsung ke luar negeri (direct call) secara teratur, terjadwal dan didukung dengan sistem dan pelayanan tingkat dunia. Dengan demikian, pelabuhan di sekitar tidak harus ke Surabaya atau Jakarta untuk mengirim barangnya ke luar negeri. Ini kita tunggu peran dari Dirut Alfred Natsir dan jajarannya.

Sekedar mengulang, sangatlah logis dan mendasar, apabila ada kapal niaga asing yang akan melakukan bongkar muat barang di Jakarta atau Surabaya, perlu waktu lama dan biaya mahal. Dan hal ini dapat dilakukan di TPM dengan biaya dna waktu yang relatif lebih cepat dan biaya murah. Kenapa tidak diteruskan? Apalagi kaitannya dengan aspek legal dengan Bea Cukai, karantina, imigrasi tidak ada masalah lagi. Ini jug abagian dari promote eastern Indonesia.

Kaitan dengan masalah ini, TPM sendiri perlu juga dipromote, agar lebih dikenal dunia pelayaran. Pelabuhan Tanjung Pelepas Malaysia perlu dicontoh. Berani mengatakan our port services are one step ahead than Singapore. Nyatanya betul-betul menjadi saingan berat Port of Singapore. Tidak tanggung-tanggung, PM Mahathir Mohammad dalam setiap kesempatan selalu mempromosikan Pelabuhan Tanjung Pelepas (Brosur, Port of Tanjung Pelepas, Maret 1999). Kayaknya TPM kurang promosi sehingga kurang dikenal dalam bisnis global.

Mengingat saat peresmian telah diindikasikan, kapasitas TPM terbatas, maka tidak ada pilihan lain, apalagi semua pihak telah OK, untuk segera merealisir pengembangan TPM ke arah utara Pangkalan Paotere, yang lebih dikenal sebagai Makassar New Port, sebagai bagian dari Promote Eastern Indonesia. Barangkali Dirut Alfred Natsir, bisa memposisikan diri kurang lebih sama dengan yang dilakukan Dirut Sumardi.

Masjid Babussalam

Presiden Megawati Sukarnoputri, saat meresmikan TPM, juga meresmikan Masjid Babussalam, Masjid kebanggaan pelabuhan. Saat ini masjid yang tanggal 28 Juli 2009 juga tepat berusia 8 tahun tersebut sarat dengan kegiatan islami.

Sebenarnya untuk pembangunan TPM pada tanggal 6 Agustus 1999, bersama-sama dengan proyek lainnya, telah diresmikan oleh Presiden BJ Habibie di Kantor Gubernuran Sulawesi Selatan. Kala itu masih sebatas pembangunan lahan atau lapangan penumpukan, belum dilengkapi dengan CC, transtainer, head truck dan fasilitas lainnya. Dua tahun kemudian pada saat diresmikan oleh Presiden Megawati yaitu pada tanggal 28 Juli 2001, adalah saat beroperasinya TPM secara resmi.

Untuk itu, tidak ada salahnya dalam kesempatan ini, kita ucapkan “Selamat Ulang Tahun ke-8 untuk TPM dan Masjid Babussalam. Selamat di HUT sewindu. Ke depan semoga semakin bertambah jaya dan tetap menjadi dambaan bagi kita semua. Diyakin, Dirut dan jajarannya telah memiliki kiat-kiat dalam rangka pengembangan TPM dan kejayaan Masjid Babussalam.

Yogyakarta, 8 Juli 2009

Samsul Hadi (Kontributor)